Pengertian Teori Akuntansi

Hendriksen dan Van Breda (1992) mengemukakan pendapat bahwa teori akuntansi adalah ”… penalaran logis dalam bentuk seperangkat prinsip-prinsip yang luas (a set of broad priciples) yang memberikan rerangka referensi umum untuk mengevaluasi praktek akuntansi dan memberikan pedoman dalam mengembangkan praktek dan prosedur akuntansi yang baru”.

Definisi tersebut dapat dilihat bahwa “teori akuntansi” tidak lepas dari praktek akuntansi karena tujuan utamanya adalah menjelaskan praktek akuntansi berjalan dan memberikan dasar bagi pengembangan praktek tersebut.

Sedangkan Macfoedz (1996) mendefinisikan teori akuntansi sebagai konsep, standar, mode, hipotesis dan metode yang saling terkait yang diekstraksi dari disiplin filosofi akademi dan keilmuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena bisnis.

Asumsi dasar merupakan basis dalam proses keseluruhan teori akuntansi. Asumsi dasar akan digunakan untuk menyusun konsep akuntansi. Konsep akuntansi yang baik akan menghasilkan standar yang baik. Dari standar selanjutnya diturunkan menjadi metode, kemudian praktik akuntansi yang harus mengacu kepada standar yang dibuat.

Prekripsi akuntansi dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah khusus, teori yang mendasarinya juga dikembangkan berdasarkan model-model yang khusus. Secara umum, fungsi utama dari teori akuntansi adalah untuk memberikan rerangka pengembangan ide-ide baru dan membantu proses pemilihan akuntansi (Mathews and Perera, 1993). Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa teori memiliki karakteristik sebagai berikut: a) memiliki body of knowledge; b) konsisten secara internal; c) menjelaskan dan/atau memprediksi fenomena; d) menyajikan hal-hal yang ideal; e) referen yang ideal untuk mengarahkan praktek; dan e) membahas masalah dan memberikan solusi.

Periodisasi Teori Akuntansi

Godfrey dkk (1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai berikut:

Pre-theory period (1492-1800)

Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak Pacioli sampai pada awal abad ke-19. kalaupun ada saran-saran atau pertanyaan-pertanyaan belum dapat digolongkan sebagai teori atau pernyataan yang sistematis.

General scientific period (1800-1955)

Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanannya baru berupa penjelasan terhadap praktek akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan mengembangkan praktek akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan atas kenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan pada logika. Laporan AAA ”A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate Reports pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of Accounting Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh perumusan teori akuntansi berdasarkan metode empiris atau disebut era general scientific ini.

Normative period (1956-1970)

Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan “norma-norma” atau “praktek akuntansi yang baik”. Kalau dalam periode sebelumnya menekankan kepada ”APA” yang terjadi dalamperiode ini ”Bagaimana seharusnya” dilakukan, ”What should be”. Pada periode ini muncul kritik terhadap konsep ”historical cost” dan pendukung adanya ”conceptual framework”. Beberapa terbitan laporan pada era ini adalah: An Inquiry into the Nature of Accounting oleh Goldberg yang diterbitkan pada tahun 1965, AAA menerbitkan A Statement of Basic Accounting Theory.

Specific Scientific Period (1970-sekarang)

Periode ini disebut juga “positive era”. Di sini teori akuntansi tidak cukup hanya dengan sifat normatif tetapi harus bisa diuji kebenarannya. Norma dinilai subyektif jadi harus diuji secara positif. Pendekatan normatif dikritik karena:

  • Teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa.
  • Teori normatif didasarkan pada pertimbangan subyektif.

Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyektif maka tidak bisa diterima begitu saja harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Pada periode ini data empiris sudah banyak tersedia kemudian teknik-teknik statistik dan teknik yang menggunakan disiplin lain untuk melakukan pengujian sudah demikian banyak sehingga memudahkan melakukan pengujian. Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif adalah untuk menerangkan dan meramalkan praktek akuntansi. Salah satu contoh dalam penggunaan teori positif ini adalah hipotesa ”bonus plan”. Hipotesa ini menunjukkan bahwa manajemen yang remunerasinya didasarkan pada bonus maka mereka akan berusaha memaksimasi pendapatannya melalui pendekatan akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga bonusnya tinggi. Dalam penyusunan laporan keuangan manajemen tentu akan memilih standar akuntansi yang dapat menaikkan laba atau bonus mereka. Teori ini akan dapat menjelaskan atau memprediksi prilaku manajemen dalam mana bonus plan diberlakukan.

Watts dan Zimmerman pendukung konsep ini dalam bukunya Positive Accounting Theory menyatakan bahwa keuntungan pendekatan ini adalah bahwa regulator bisa meramalkan konsekuensi ekonomis dari berbagai kebijakan atau praktek akuntansi.

Menurut Godfrey dkk pada akhir-akhir ini ada kecenderungan munculnya perbedaan antara Riset Academics dan Riset Profesional yang sebelumnya dinilai seragam. Riset Academics tetap dalam pendekatan positif yang umumnya menekankan pada peran dan pengaruh informasi akuntansi sedangkan Profesional agak condong pada pendekatan normatif yang umumnya menekankan upaya untuk menyeragamkan praktek akuntansi agar lebih bermanfaat bagi praktisi.

Metode Perumusan Teori Akuntansi

Belkaoui dan Godfrey menyebutkan bahwa ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk merumuskan teori akuntansi, diantaranya:

1. Metode Deskriptif  (Pragmatic)

Dalam metode ini akuntansi dianggap sebagai sebuah seni yang tidak bisa dirumuskan. Metode perumusan akuntansi bersifat menjelaskan atau mendeskripsikan serta menganalisa praktek yang ada dan yang diterima saat ini

2. Metode Psychological Pragmatic

Metode ini mengamati reaksi dari pengguna laporan keuangan terhadap output akuntansi yang telah disusun dari berbagai standar, prinsip, pedoman atau aturan. Hal ini juga seringkali disebut sebagai behavioral accounting.

3. Metode Normatif | 1950 – 1960

Metode ini menganggap akuntansi sebagai sebuah norma peraturan yang wajib diikuti tanpa memperdulikan apakau dipraktekan, berlaku saat ini atau tidak.

4. Metode Positive | 1970

Metode yang dimulai dari sebuah metode ilmiah yang diterima umum dan sedang berlaku. Berdasar Teori akuntansi positif ini, dirumuskan permasalahan penelitian untuk mengamati fenomena nyata yang tidak terdapat didalam teori.

Keempat metode ini dapat digunakan dan dikombinasikan dengan berbagai pendekatan yang bisa dilakukan. Selain itu teori yang didapatkan atau rumus akuntansi yng diperoleh harus mampu menggambarkan keadaan sebenarnya. Sehingga teori-teori yang dihasilkan bisa digunakan dalam prakteknya.

Sifat Teori Akuntansi

Ada beberapa sifat dari teori akuntansi, yaitu:

  1. Merupakan seperangkat prinsip yang logis, saling terkait dan membentuk kerangka umum.
  2. Berkaitan erat dengan penyusunan kebijakan akuntansi.

  3. Harus mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda-beda satu sama lain.

  4. Harus dapat memberikan penjelasan mengenai praktik akuntansi, menjawab dan menjelaskan semua fenomena yang melatarbelakangi penerapan suatu metode dalam praktik akuntansi.

  5. Harus dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung menggunakan metode LiFO daripada FIFO dalam menilai persediaannya.

  6. Harus bisa memprediksi atau bahkan menemukan gejala akuntansi yang belum diketahui.

  7. Sangat penting dalam menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi.

Manfaat Teori Akuntansi

Teori akuntansi bermanfaat sebagai suatu kerangka acuan untuk menilai praktek-praktek akuntansi. Selain itu teori ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pedoman untuk mengembangkan praktek-praktek akuntansi dan prosedur-prosedur yang baru. Teori akuntansi juga dapat digunakan untuk meramalkan atau memprediksi beberapa kejadian yang bersifat ekonomi dan akuntansi di masa yang akan datang. Hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan ekonomi.

Oleh sebab itu suatu teori akan dapat bertahan atau suatu teori akan dapat dinilai baik-buruknya dengan melihat atau mempertimbangkan kemampuan teori tersebut dalam menjelaskan atau meramalkan suatu keadaan dimasa yang akan datang serta kemampuan teori tersebut dalam mengukur tingkat resiko yang mungkin terjadi.

Tujuan dan Fungsi Teori Akuntansi

Tujuan dari teori akuntansi adalah memberi berbagai prinsip yang logis dan saling berkaitan, sehingga membentuk kerangka yang menjadi acuan umum dalam melakukan penilaian serta pengembangan praktek dibidang akuntansi secara sehat.

Lalu fungsi teori akuntansi adalah sebagai pegangan bagi pihak yang membutuhkan dalam melakukan penyusunan yang standar akuntansi, berfungsi sebagai kerangka yang menjadi acuan dalam penyelesaikan sebuah masalah dalam akuntansi ketika tidak ada standar resmi serta melakukan menilai terhadap prosedur serta praktik akuntansi.

Demikian materi teori akuntansi yang dapat disampaikan. Semoga informasi seputar pengertian teori akuntansi di atas bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s